Takdir di 25 September malam

Saya sudah mengenalnyaΒ  selama hampir 2 tahun. Perempuan yang ramah, baik hati dan di sayang oleh semua murid muridnya. Iya, dia seorang guru. Guru Al quran di sekolah tempat anak saya S, belajar sekarang. S kami pindahkan ke sekolah ini, yang lebih cocok dengan hati nurani kami dan visi misi kami dalam membesarkannya sebagai seorang muslimah sejati pada saat dia naik ke kelas IV. Disaat mendaftarkan S disini, disaat yang sama sekolah ini juga sedang membutuhkan guru bahasa Inggris dan menawari saya untuk mengajar disini. Dan jadilah saya kembali ke basic lagi – teaching.

Disekolah inilah saya pertama kali mengenalnya. Dialah yang pertama kali menyapa saya di hari pertama saya mengajar lagi. Sejak hari itu interaksi kami berlanjut dan semakin dekat apalagi kemudian meja kerja saya pindah ke samping mejanya.

Dia adalah teman terbaik dalam saling memberi nasehat (walaupun dia lebih muda dari saya), teman terbaik berbagi pisang goreng makanan kesukaan kami berdua, teman terbaik dalam hal ledek ledekan dan curhat curhatan.

Dia menjalani hidup dengan lempeng, penuh senyum, walaupun semua orang tahu kepahitan hidup yang dijalaninya. Tidak pernah ada kata2 kata kasar, umpatan ataupun keluhan yang keluar dari mulutnya selama hampir 2 tahun pertemanan kami. Al quran yang diajarkannya setiap hari kepada anak anak, terpatri dengan jelas di dalam keseluruhan dirinya.

She was waiting for her fourth child.Β  Dan menurutnya, kehamilan yang ke-4 ini adalah kehamilan yang terberat yang dia rasakan.

Saya bersamanya dari awal kehamilannya. Saya melihat perubahannya dari kurus menjadi menggelembung, dari berjalan gagah naik turun tangga lantai 1 dan lantai 2 menjadi terseok seok seiring dengan semakin besarnya kandungannya.

Di minggu minggu terakhir kehamilannya, dia bilang kalau rasanya semakin berat dan perutnya semakin sakit. “sakit banget perut aku yang bagian bawah ini mak“, Itu yang sering diucapkannya ke saya. Tapi walaupun sering merasa kesakitan, setiap kali jam mengajarnya datang, dia akan bangkit dengan semangat dan penuh senyum ke kelasnya.

Di awal bulan September dia sudah memasukan ijin cuti melahirkan ke pihak sekolah dan kita semua mensupport keputusannya karena kami semua kasihan melihat jalannya yang sudah makin terseok seok. Saya memeluknya lama dan mendoakan kelancaran untuk persalinannya nanti di hari terakhir kami bertemu itu. Dan dia membalas pelukan erat saya dengan sama eratnya sambil tersenyum dan berucap “sampai nanti kita ketemu lagi ya mak“.

Selama dia cuti saya rutin bertanya apakah sudah lahiran atau belum dan jawabannya selalu “belum mak, belum ada pembukaan, tapi perutku udah makin sakit ini“. Begitulah selalu awal cetingan kami.

Hari selasa tanggal 24 Sept kami semua mendapat kabar kalau beliau sudah memasuki proses melahirkan, cuma pembukaannya gak naik naik. Hari rabu tanggal 25 sept 2019 siang kami semua dikejutkan dengan berita kalau dia dalam kondisi kritis diruang operasi setelah melahirkan secara caesar.

Disela sela jam istirahat kami berangkat ke rumah sakit untuk menjenguknya. Tapi sayangnya kami tidak diijinkan untuk melihat nya karena kondisinya yang masih kritis. Menunggu dengan gelisah dan tidak putus2nya berdoa di luar ruang operasi, dokter datang mengabari kalau akan diadakan operasi ke dua untuk menutup rahim.

Pemikiran yang ada dikepala kami saat itu, kalau akan dilaksanakan operasi yang ke 2 berarti dia berada dalam kondisi yang stabil untuk menjalani operasi itu. Maka pulanglah kami dengan fikiran yang positif tentang kesembuhannya.

Sesampai dirumah saya tidak sempat membuka wa di grup dan ketinggalan up date tentang dia karena saya disibukan dengan kasus emergency salah satu anabul dirumah (Koko) yang harus segera dilarikan ke dokter karena kondisinya yang kritis. And I lost him in the vet’s office 😦 😦

Jam 7 rabu malam itu saya pulang ke rumah dengan hati hancur, mata bengkak, ingus beleleran dan tangisan yg tak kunjung berhenti karena kematian Koko. Setelah menguburkan Koko malam itu juga, saya sangat kecapekan, lahir dan bathin terkuras, saya tidak berkesempatan membuka grup untuk memantau kondisi ter up date sahabat saya itu.

Kamis subuh setelah selesai sholat malam, baru saya ingat untuk membuka grup, dan banjir berita yang masuk menghancurkan hati saya untuk kedua kalinya πŸ˜₯ πŸ˜₯ : sang sahabat tercinta telah pergi mendahului saya menuju ke tempat sang penciptanya.

Rasanya seperti mimpi, rasanya baru kemaren kami masih tertawa2 berdua, saling meledek dan berbagi pisang goreng makyus dari kantin sekolah, dan sekarang tiba tiba saya tidak akan pernah lagi melihat dan mendengar suara,Β  tawa dan senyumnya πŸ˜₯ πŸ˜₯ Ya allah ya rabb…..berat sekali rasanya menerima kenyataan ini.

Kamis pagi itu saya langsung ke rumahnya dalam perjalanan ke sekolah. Saya ingin bertemu, saya ingin melihat dan saya ingin memeluk dan menciumnya untuk terakhir kali.

Sesampai disana tangis saya pecah untuk kesekian kalinya. Dia terlihat seperti sedang tertidur lelap dengan wajah damai. Saya peluk dan saya cium wajahnya, saya bisikan baginya doa keselamatan di alam sana.

Till we meet again my dearest friend…..please find me in hell when you don’t see me in jannah. i love you so much …… πŸ˜₯ πŸ˜₯ πŸ˜₯

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditaklukkan !

Saya orang minang, asli 100%, and i am proud to be one. Akan tetapi tidak seperti selayaknya orang minang yang suka sekali akan masakan padang yang kaya bumbu dan bersantan pekat itu, saya,Β not big fan of it. Dirumah saya jarang masak masakan padang, di luarpun saya jarang beli masakan padang. Kalaupun harus makan masakan padang (karena lagi kepengen, atau karena lagi dirumah saudara padang saya), saya suka rewel dan terkadang menjengkelkan : maunya cuma sama ayam atau ikan bakar, atau kalau gak ada yg dua itu, paling banter sama ayam goreng; nasinya harus kering, gak pake kuah2an; sambel ijo dan bumbu rendang yang melegenda itu harus kering, bebas minyak. dan saya akan dapat pelototan serem dari si bapak kalau udah rewel kayak gitu di warung padang, sementara uda yang ngambilin pesanan saya akan menatap saya dengan heran, yang saya balas dengan tatapan innocent πŸ˜†

Saya lebih suka masakan yang ringan di lidah seperti sayur asem, sayur sop, tahu tempe, ikan asin, sambel terasi, dan lalapan. Teman teman saya yang jahil suka mengolok-olok kalau saya ini padang abal atau padang murtad. Sementara teman yang pengertian come to a conclusion : kamu kelamaan merantau mak, makanya lidahmu gak familiar lagi dengan taste dari kampung halaman. Entahlah mana yang benar.

Suatu hari ada acara di sekolahan si S. Sesudah acara yang lama, panas dan membosankan itu, kita semua disuguhi makan siang yang salah satu menunya adalah lontong opor. Saya lihat S makan dengan lahap lontong opor itu. Tumben2an dia suka masakan berkuah santan. Jadilah emak ini penasaran dan mengambil lontong opor juga. Saya perhatikan kalau opor itu kayak gulai dikampung saya, cuma lebih encer, so much encer. Saya coba suapan pertama, kok enak, bukan kuah santan pekat yang bikin eneg di tenggorokan saya. Saya coba lagi beberapa suap dan ternyata opor ayam itu enaaaakkkk……

Jadilah sejak itu S dan saya jadi penyuka opor ayam. Kalau lagi pengen opor ayam saya biasanya pesen ke orang yang nyediain katering di sekolah si S waktu itu. Cuma lama2 pesen terus kok ya mak jadi resah ya, soalnya harganya lumayan juga. Akhirnya berinisiatiflah untuk coba bikin sendiri.

Pertama bikin pake resep dari tabloid. Tapi hasilnya gatot-gagal total. Rasanya beda 180′ dari opor yang biasa kami pesen. Kali berikutnya nyoba resep dari internet, dan hasilnya tetap sama, gagal lagi. Terus nanya resep ke temen: gagal maning gagal maning. (maafkan emak ayam ayam yang tidak berdosa, kalian gak ada yang makan)

Secara emak adalah orang yang pantang menyerah, nanyalah kiri kanan depan belakang siapa orang bisa bikin opor enak, dan ternyata tetangga dua rumah dari rumah saya adalah juaranya bikin opor (dan saya baru tahu itu).

Akhirnya belajarlah saya sama beliau. Dari mulai membersihkan ayamnya, menyiapkan bumbunya, ngulek bumbunya dan masak opornya step by step. Pertama praktek di rumah beliau hasilnya memuaskan, kemiripan dengan opor yang biasa saya pesen itu 90%. Kedua kalinya saya coba masak sendiri di rumah S berkomentar : lumayan mak, tapi kurang ini dan itu dikit lagi. Emak lega πŸ™‚

Ternyata practice makes perfect itu benar adanya. Semakin sering saya bikin opor, semakin benar rasa opornya πŸ˜†

Dan artinya = saya berhasil menaklukan opor ayam !!!

Note : walaupun saya suka pake banget opor ayam ini, tapi untuk kuahnya saya tetap minimalis πŸ˜‰

Finally….

Duluuuu…. banget saya pernah punya keinginan untuk bisa mandiri pergi sana sini sendiri tanpa bergantung sama si bapak dan mamang ojek untuk nganterin. Keinginan sih gede banget waktu itu, tapi usaha kurang πŸ˜† πŸ˜†Β  Setiap kali mau belajar naik motor ada aja alasan saya untuk menunda nundanya, macem macem : motornya ketinggian; kakinya gak nyampe napak tanah (dibeliin lah motor kecil yang lebih pendek sama si bapak); belajar motor siang siang panas banget, gerah (disuruh lah belajar motor pagi ato sore sama si bapak, tapi di tangguhkan terus dengan alasan mo buru2 ke kantor, mo masak, mo jemur, etc, etc,etc).

Pokoknya si bapak cape hati deh ngadepin kelakuan istrinya ini pada waktuΒ  itu.

Sampai kemudian reality hit me hard dan saya gak bisa ngapa2in selain kudu harus bisa naik motor sendiri.

and then I know that the power of kepepet itu benar adanya πŸ˜† πŸ˜†

karena satu dan lain hal si bapak bersama beberapa temannya harus keluar kota during the weekends, sementara saya dan si bocah S banyak kegiatan yang mobile during the weekends juga 😦

awalnya masih berusaha tegar mengandalkan mamang ojek langganan setiap kali saya atau S mau berkegiatan di luar. tapi lama kelamaan kok ya mulai gak nyaman ya? pertama, naik ojek berdua S itu sempit. secara dia badannya bongsor dan tingginya hampir setinggi saya sekarang. saya gak bisa duduk nyaman di ojek bareng dia. pinggang saya kadang kecetit karena duduk nyamping. atau kakinya sakit karena ngegantung sekian lama dikarenakan gak ada tempat buat narok kaki secara S udah dengan nyamannya narok kakinya di pijakan kaki ojek itu. Kedua, saya gak mau saya dan S naik ojek sendiri sendiri. saya takut, beneran deh. parno sama berita berita kriminalitas yg sering saya baca 😦 .mau pake taxol-taxi online, kok ya berat di kantong#emakirit.

sampai akhirnya saya curhat ke si bapak dan ultimatum itupun turun : harus bisa naik motor sendiri sama S.

akhirnya mulai lah saya belajar mengendarai si roda dua itu. susah ya, menjaga keseimbangan motor dan kestabilan gasnya. hari pertama dan kedua belajar saya masih yang oleng kiri oleng kanan dan terlompat lompat gitu motornya karena belum bisa seimbang dan gas nya belum bisa stabil. tetapi setelah latihan beberapa hari lamanya bolak balik gang depan rumah (kurleb seminggu), akhirnya si bapak bilang kalau saya udah bisa bawa motor di jalanan komplek.

jadilah hari sabtu beberapa minggu yang lalu saya perdana naik motor berdua S ketempat kegiatan saya yang syukurnya masih di area komplek perumahan (bukan yang harus menyusuri jalan raya).

keluar gang pertama kali sama S diboncengan saya itu rasanya sesuatu banget. saya keringat dingin. manalah di komplek saya ini setiap seratusan meter ada aja polisi tidur yang membuat saya kudu ngerem pelan pelan, lompati itu polisi tidur dan nambah gas lagi. namanyapun baru bisa naik motor, ya belum smooth lah melewati semua polisi tidur itu. yang ada masih oleng kiri oleng kanan atau terhenti di tengah tengah dan otomatis kaki turun dua duanya. itu semua bikin keringat saya bercucuran. ditambah lagi ini penumpang cilik dibelakang gak henti hentinya istigfar setiap kali saya bermasalah melewati polisi tidur atau belok kiri atau belok kanan.

“allahuakbar mak….”

“mak….astagfirullah….”

ya allah ya robbi…. emak…ati ati”

atau kalau gak dia baca ayat kursi loudly sepanjang perjalanan. pergi dan pulangnya

doh…..ini penumpang nambah2in stress drivernya aja. ampun….,tobat….punya penumpang kayak gini. udah tahu emaknya baru bisa bawa motor, komentar2nya malah bikin nyali emaknya makin ciut.

rasanya pengen brentiin ini motor ke pinggir dan bilang : S, kamu turun disini, jalan kaki sampe tempat tujuan aja ya, biar emaknya gak stress denger ocehan kamu nak 😦

tapi ternyata naik motor itu memang harus banyak latihan. semakin sering latihan, semakin diseringin make motor, semakin bisa menjaga kesimbangan dan kestabilan gasnya. dan bisa tahu juga cara ngerem dan ngegas di setiap polisi tidur itu.

dan….., alhamdulillah, seiring dengan berjalannya waktu, motor kecil itu (yang kaki saya bisa napak sampai tanah) bisa ditaklukan :-). sekarang saya dan S bisa kemana2 lancar jaya berdua walaupun dengan batasan2 ketat yg diberikan oleh si bapak : belum boleh ke jalan raya karena belum punya SIM; kalau mau berkegiatan di tempat yang jauh, kudu pake taxol (oke deh bapak,sip. tapi uang sangunya tambahin yak πŸ˜† )

tapi at least, kemandirian yang dulu pernah saya impikan, setelah sekian lama akhirnya bisa didapatkan. bravo mak, I’m proud of you πŸ˜†

 

Syurga Sepantasnya

Saya suka terpana, terpaku, terpukau dan ujung ujungnya terjatuh kelembah keminderan tak bertepi#hadeh…..bahasamu maaaakkkk setiap kali membaca status teman/sahabat yg berseliweran di medsos tentang ibadah ibadah yg mereka lakukan, pengajian pengajian yg mereka ikuti, kebaikan kebaikan yg sudah mereka lakukan ke lingkungan sekitar mereka. Masyaallah….mungkin merekalah calon penghuni syurga tertingginya allah swt.

Sementara saya ? Ibadah ibadah saya bisa dikatakan yg wajib wajib saja dan yg sunnah kalau waktunya tersedia, pengajian yg saya ikuti disesuaikan dengan waktu luang dan budget yg tersedia, kebaikan kebaikan yg sudah saya lakukan? Entahlah, saya malu menyebutkan kan nya karena tidak seperti yg sudah dilakukan oleh teman2/sahabat2 saya itu. Saya jaaauuuhhh….tertinggal oleh mereka dengan excuse saya : I am busy fighting the world 😭😭😭

Tapi bagaimanapun, sebagai makhluk yg suka ngotot, saya tetap dan terus berharap kepada allah untuk mendapatkan sepojok syurga dari syurgaNYA yg seluas langit dan bumi. Sepantasnya, sesuai dengan kadar ibadah dan kebaikan2 yg sudah saya lakukan, yg insha allah akan terus konsisten dan ditingkatkan untuk dilakukan. Sepantasnya syurga untuk hambaMU yg naif, yg iman nya masih suka naik turun, yg terkadang masih belum mampu menahan bercokolnya setan didalam hatinya ya Allah. Semoga ENGKAU mengabulkannya.Aamiin….

Cinta Terlarang….

Kita tidak akan pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana rasa itu datang. Tiba tiba saja, out of the blue,tidak direncanakan sama sekali, kita akan terpaku diam, terpana, sesak nafas,megap megap oleh rasa yg tiba tiba datang menyergap. Mungkin itu yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama.

Lalu,apakah saya jatuh cinta? Iya,saya jatuh cinta dan sedang jatuh cinta 😍😍😍

Dan ternyata jatuh cinta itu tidak enak 😩😩. Saya selalu membayangkannya, saya selalu teringat pada wajahnya, tatapannya yg lembut membayangi saya dari hari ke hari. Saya tersiksa, saya ingin menemuinya setiap hari (dan ini hal yang tidak mungkin dilakukan).

Lalu apakah rumah kecil kami jadi gonjang ganjing karena cinta ini? Apakah si bapak cemburu dan S tidak rela karenanya?

Tidak sama sekali. Yang ada saya di ledek, di olok olok dan di’bully’oleh si bapak πŸ˜₯πŸ˜₯ : ehem…ehem…yang lagi jatuh cinta….; cie….cie….yang lagi ngelamunin pujaan hatinya; udah ketemu sang pujaan hati belum hari ini? Dst…..dst…..

Itulah sebagian ledekan si bapak kepada saya setiap kali melihat saya melamun atau curhat kepadanya tentang cinta saya ini. Iya, saya curhat ke si bapak kalau saya lagi jatuh cinta 😩😩😩

Sementara S lebih banyak menyabarkan dan menenangkan hati saya : sabar ya mak, istighfar…..(duh,dewasa sekali kamu anakku…)

eits…kok rada aneh. si bapak gak cemburu dan S malah membesarkan hati emak pada saat dia jatuh cinta. Emang emak jatuh cinta sama siapa sih?

Well, namanya Barney. Dari namanya ketahuan kalau dia bukan asli indonesia. Saya ketemu dia di pet shop langganan kami beberapa minggu yg lalu. Saat pertama kali kami saling bertatapan, saya melted, klepek klepek. Tatapan matanya begitu lembut, cenderung melankolis. Dia begitu sempurna dan menggemaskan dalam pandangan saya. Warnanya sewarna madu. Kedua kuping kecilnya menjuntai disisi sisi kepalanya dengan lembut. Ekor mungilnya bergerak gerak lincah setiap kali dia saya ajak bicara. Kaki dan tangannya pendek gemuk menggemaskan. Saya bahkan hi five sama dia sebelum saya pulang. Ya allah ya robbi, betapa indah makhluk ciptaanMU ini 😍😍😍

Iya. Barney itu seekor puppy golden retriever yang ada di pet shop langganan saya. Dia ditarok disana karena mau dijual sama pemiliknya. Mas mas di pet shop itu ngomporin saya untuk membeli Barney : ayo bu beli, dia suka tuh sama ibu, dari tadi ibu ajakin ngomong dia ceria terus, murah ini bu dari harga pasarannya,cuma ….juta. dst…dst…dst…(Mas, mas tega amat ya nawarin puppy ke saya. Mas gak liat jilbab saya yg panjang melambai ini artinya apa?). Saya cuma senyam senyum aja di komporin si mas.

Sesampainya dirumah saya cerita ke si bapak. Sekedar untuk meluapkan apa yg ada dihati saya, karena saya tahu persis 100% kalau saya gak akan pernah bisa memiliki Barney. N.E.V.E.R 😧😧 (dan dimulailah ledekan,olokan dan bully-an si bapak sejak saat itu.)

Seberapapun saya menyukai Barney dan ingin memilikinya, tapi agama dan keyakinan saya melarang hal itu. Bagaimana pun saya berusaha, Barney tidak akan pernah bisa saya miliki.

I will always love Barney…..

S.E.D.I.H……

 

Tidur siang

Saya sangat suka tidur siang. Tidur siang adalah sebuah kebutuhan untuk saya.

Waktu masih ngajar dulu, saya gak pernah mau ngambil kelas siang karena akan mempengaruhi jam tidur siang saya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Walaupun dikasih kelas siang, biasanya saya akan tukeran jadwal sama teman sejawat. Dan biasanya mereka ngerti kalo saya gak mau ngajar siang. Jadi ada aja yg mau diajak tukeran.

Dan sampai sekarangpun, walaupun sekarang saya kerja kantoran, saya tetap hobi tidur siang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Biasanya kalo jam istirahat kantor datang, saya akan mengeluarkan bantal kecil dari laci, membereskan meja dan merebahkan kepala diatas meja dengan bantal kecil saya itu. Terlelap 15 ato 20 menit sudah cukup untuk membuat saya seger lagi. Habis itu baru deh sholat dan maksi.

Dulu saya punya teman di kantor yang pertama yang juga suka tidur siang seperti saya. Dan doi lebih ekstrim lagi. kalo jam istirahat kantor datang, dia akan mengeluarkan kursi dari mejanya, ngegelar sajadah dibawah meja dan beralaskan jaket yang digulung sebagai bantal, dia akan istirahat tidur siang disana, dikolong mejanya πŸ˜† πŸ˜†

Sepertinya tidur siang itu memang sebuah kebutuhan (buat saya), agar badan dan pikiran bisa seger lagi sampe sore.

Tapi entah kenapa, S susah diajak tidur siang. Beda banget sama emaknya.

Karena dari senin sampe jumat jadwalnya padat, sekolah sampe jam 2 trus lanjut ngaji, jadi selama weekdays dia gak saya diwajibkan tidur siang. Tapi selama weekend, secara emaknya juga dirumah dan pengen tidur siang juga, biasanya dia saya biasakan tidur siang.

Tapi nyuruh dia tidur siang itu syusyaaaaaahhhhhhnya…….. tobat deh ! Ada aja alesannya.

aku gak ngantuk mak…..

Aku belum selesai baca buku ini….

Filmnya belum kelar mak………

Ntar kalo aku tidur siang Pobi sama goldi gak ada temennya……

Aku nguap bukan karena ngantuk, tapi capek aja…..

Macem macem alesannya. Biasanya kalo gak mempan diajak, dibujuk ato diancem buat tidur siang, saya tinggal sendiri ke kamar. Dan…..waktu saya bangun 1 jam-an kemudian, Β biasanya dia akan saya temukan terkapar tepar diatas karpet depan tipi atau di atas sofa πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† Yang katanya gak ngantuk, ternyata tertidur juga akhirnya.

The fact is, walaupun hati keukeuh gak mau tidur siang, badan gak bisa nolak untuk istirahat πŸ™‚

Ayo tidur siang ! ! !

Cinta yg berpaling?

Judulnya kayak telenovela ya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tapi ini bukan cerita tentang telenovela. Ini tentang anggota keluarga berkaki empat dirumah mungil kami.

Seminggu setelah kematian lody, anggota keluarga kami yang berkaki empat, saya masih mellow. Masih suka mewek kalo ada yang bertanya : mak, kucingmu yang gede belang hitam putih kemana? Kok gak keliatan? Mata saya memanas. Dan biasanya langsung bercucuran air mata pada saat menceritakan kematian Lody. Death was never easy untuk orang yang ditinggalkan 😭😭😭

Mungkin orang2 terdekat dikeluarga besar saya kasihan dan mulai gerah juga kali ya dengan kecengengan saya. Mereka menganjurkan saya untuk adopsi lagi.

Awalnya saya keukeuh gak mau. Tapi setelah lebih dari seminggu mendapati rumah kosong pas pulang kantor, gak ada makhluk berkaki empat berbulu halus yg mengikuti saya kemanapun minta dielus, digendong dan dikasih perhatian, rasanya ada yg kurang. Memang ada S yang juga menunggu saya setiap pulang kantor dengan pelukan dan ciumannya. Tapi rasanya tetap ada yang kurang. Apalagi kemudian adik saya mengirimi foto2 kitten lucu yg siap diadopsi.

Saya meleleh….

They were soooo….cute ! Super duper cute !

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan si bapak dan S, akhirnya kami memutuskan mengadopsi si putih belang hitam sedikit berbulu halus dan bermata hitam mellow. S menamainya Poby, seperti nama tokoh beruang putih dalam film favoritnya Pororo.

Poby datang kerumah kami saat dia berumur 3 bulan. Masih kecil. Baru saja disapih dari induknya. Ukurannya cuma segede kepalan tangan si bapak. Sangat manja dan sangat playful.

Tapi diminggu2 pertama, Poby nangis terus. karena saya dan si bapak kerja seharian pulang sore, S sekolah juga sampai sore, jadi sehari2 Poby sendirian rumah. Laporan tetangga sebelah rumah : mak, kucingmu nangis terus setiap hari kalau rumahmu udah kosong. Kedengaran meongannya sampe kerumahku.

Duh….saya sedih mendengar laporan sang tetangga. Saya tahu Poby pasti kesepian dan takut sendirian dirumah baru,sementara penghuninya pergi pagi pulang sore, rumah kosong hampir setiap hari.

Akhirnya setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mengadopsi 1 kitten lagi, untuk temannya poby. Kitten yang kedua ini masih siblingnya Poby, berbulu sewarna jahe yang diberi nama oleh S dengan Goldy.

Sekarang umur mereka berdua udah setahun lebih. Badannya gede, segede anak kambing yg baru lahir πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

I can tell they are happy cats 😍😍😍 yang suka bermain berdua, saling sayang dan saling berantem. Dan yang paling bikin pusing emak, suka ngeberantakin rumah kalau udah main kejar2an berdua.

IMG-20170215-WA0028

#wajah2 manyun habis dimarahin emak karena ngeberantakin rumah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi satu hal yang pasti,saya bersyukur diberi kesempatan menjadi emak mereka berdua. Hidup kami sekeluarga semakin berwarna dengan adanya mereka berdua dirumah.

Tapi kemudian saya digodain sama tetangga sebelah : cintamu berpaling dong mak, dari Lody ke mereka berdua?

Pertanyaan iseng yang sempet membuat saya merenung. Apa iya cinta saya berpaling dari lody ke mereka berdua? Rasanya tidak. Ada banyak ruang di hati saya untuk mencintai semua makhluk ciptaan NYA. Satu ruang pernah terisi penuh dengan cinta untuk Lody. Bukan berarti dengan adanya 2 anak baru ini, ruang hati saya untuk Lody dulu digantikan oleh mereka. Bukan. Mereka berdua menempati ruang yang lain yg juga penuh dengan cinta. sebagaimana halnya ruang2 lain di hati saya untuk si bapak dan S, yang juga penuh dengan cinta.

Jadi intinya, cinta saya tidak berpaling dari Lody ke mereka berdua. Saya masih mencintai Lody sepenuh hati saya. Kalau dulu saya mengenang lody dengan air mata, sekarang saya bisa mengenang Lody dengan senyuman.

I still love you lody, my dearest. Till we meet again in HIS jannah….

Durian

saya pencinta durian.

Ayah ibu saya pencinta durian.

Dari empat orang anak ayah,cuma kakak saya yg ke dua aja – mamanya si F – yang gak suka durian.

bahkan nenek saya,amak,adalah pencinta durian sejati.

Keluarga besar si bapak pun adalah hantunya durian πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Bagi kamu sekeluarga,makan durian itu gak nendang kalau gak pake ketan.ketannya bisa dalam bentuk lemang,ketan urap atau silamak.silamak ini persis kayak lemang ingredient nya,cuma dimasaknya gak pake bambu.tapi dikukus aja.

Perpaduan ketan yg gurih,asin dan legit dengan daging durian yg manis legit adalah sebentuk kenikmatan yang gak bisa digambarkan dg kata2#alahlebay.

Saya penyuka durian sejak kecil dulu ampe sekarang.etapi,seingat saya ada 1 – 2 tahun blank dikehidupan dewasa saya dimana saya sangat tidak menyukai durian.entah kenapa.

Saya ingat, saya pernah marah2 dan ngambek gak mau ngajar dikantor yang pertama dulu karena ada teman sekantor yg jajan sop durian,membawanya ke kantor dan memakannya disana.baunya bikin saya mual waktu itu.

Pernah juga saya  ngamuk dirumah karena amak lagi asik makan durian sama kakak saya yang pertama.baunya kok waktu itu bikin saya eneg ya 😎

Tapi selain 1 – 2 tahun error gak suka durian itu,saya selalu menyukai durian.

Udah gitu aja.

#postingan iseng sehabis makan durian pake ketan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Cara praktis makan sayur

saya native minang, tapi tidak terlalu mengidolakan masakan minang kayak rendang, dendeng batokok,gule ayam,gule kepala ikan dan semua masakan yg pekat dengan santan dan bumbu2nya itu.bukan berarti saya gak suka ya. suka juga.cuma kalo saya beli/bikin masakan padang pasti serba minimalis pemakaian santan dan bumbu2nya.

saya lebih menyukai masakan sunda sederhana seperti sayur asem, tahu tempe, pepes, ikan asin, sambel dan gak ketinggalan lalapannya. atau masakan jawa lainnya kayak pecel madiun atau karedok (gak heran dulu teman2 kantor menjuluki saya si lidah padang murtad ). saya pencinta sayuran. kalo makan gak ada sayurnya saya suka uring2an.

Beda ama si bapak. dia mah minang sejati.cintanya setengah mati sama masakan padang.dalam seminggu harus ada minimal 1 masakan kampung halaman yg terhidang di meja makan. kalo gak dia yang uring2an secara di hari2 lain dalam seminggu itu si bapak manut makan apa2 yangΒ sempet saya masak yang rata2 bukan masakan padang πŸ˜†

tapi dari setiap masakan yang saya bikin, bapak jarang menyentuh sayurnya. karena doi gak terlalu suka sayur. ketidakterlalusukaan (doh...bahasanya kok susah amat yak ) Β pada sayur ini ternyata berhubungan dengan nurturenya si bapak . keluarga besarnya si bapak juga gak menempatkan sayur sebagai sebuah keharusan dalam keseharian menu mereka.

jaman masih tinggal di Pekanbaru dulu dan seringkali mudik kalo ada  tanggal merah ke kampung halaman, setiap kali nginep di rumah ibu mertua, saya juga sering uring2an setiap kali jam makan tiba. karena selalunya hasil masakan ibu mertua dan kakak ipar adalah masakan tradisional minang yang gak jauh2 dari santan dan bumbu pekat, minus daun2an alias sayuran. mau makan gimana gak makan juga gimana 😦 ntar kalo saya gak ikutan makan atau milih eating out di luar bisa2 ibu sama kakak ipar tersinggung. iya toh? tapi dulu itu biasanya sebelum jam makan tiba, saya akan ngider dulu sekeliling rumah ibu metiki daun2 muda kayak daun singkong, daun pepaya, daun ubi atau daun mengkudu yang akan saya kukus/rebus untuk dimakan sebagai lalapan.tapi , daun mengkudu mudanya dimakan mentah aja. rasanya kayak lalapan jengkol muda atau pete gitu.

nah, secara dari kecil si bapak gak terlalu suka sayur dan sekarang karena udah mulai berumur, saya berusaha menyisipkan menu sayur dalam keseharian kami. tapi ya itu, jarang disentuh sayurnya 😦

sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu, si istri yangΒ berusahaΒ sholeha ini menemukan cara yang maknyos bagi si bapak untuk menikmati sayur. tada……!!

Jpeg

iya, pake tepung bumbu ituh dan bikin bakwan πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

tepung ini sangat praktis karena saya bisa memasukan sayuran apapun kedalamnya dan hasil bakwannya tetap laris manis dikunyah sama si bapak dengan komentarnya yg cuma dua kata saja : enak nih, sambil mulutnya sibuk mengunyah tanpa memperhatikan kalau yang dia kunyah itu adalah sayuran yang biasa saya masak dan jarang dia sentuh πŸ˜†

case closed then !

tapi keseringan makan gorengan gak bagus juga ya karena minyaknya bisa menyebabkan kolesterol tinggi 😦 tapi mudah2an nanti saya dapat ide yang lain lagi untuk masalah perminyakan ini.

PS : Ini bukan postingan berbayar . sekedar sharing aja atas masalah saya dan solusinya.

pijet

kakak saya punya tukang pijet langganan yang datang minimal dua minggu sekali atau berdasarkan request si kakak. perempuan setengah baya bertubuh kurus tapi tenaganya luar biasa pada saat mijet. yang kami panggil mpok.

mpok, perempuan mulai sepuh yang tinggal dengan ibunya yang sudah sangat tua di kampung sebelah komplek perumahan tempat kami tinggal. mpok perempuan pendiam. selama mijet, mpok jarang ngomong, jarang bersuara kalau gak kita yang memulainya. dia lebih memilih tekun dan telaten memijet setiap bagian tubuh customernya.

saya suka dipijit sama mpok.

dulu saya gak suka dipijet.rasanya geli geli gimana gitu kalau dipijet. jadi dulu kalau badan lagi pegel pegel gak enak biasanya saya cuma olesin obat gosok sekujur tubuh, minum teh anget dan tidur gelap2an. tapi terkadang itu semua tidak membantu. badan tetap berasa pegel gak keruan. kalau udah begitu biasanya mau gak mau saya tetep harus manggil tukang pijet. dan biasanya selama di pijet itu dulu mulut saya suka berisik karena kegelian atau karena kesakitan. dan biasanya lagi tukang pijet yang lagi mijet saya suka gak tahan dengan kebrisikan mulut saya. yah…. habis gimana…. wong saya kegelian pas kaki saya dipijit, saya gak bisa diem aja dong. kalau tangannya sakit pas dipijet kan saya harus mengekspresikan rasa sakit itu kan? masak diem aja? tapi para pemijet ini gak ngerti rasa geli dan rasa sakit yang saya rasakan 😦

para pemijet ini , mbak2 dan terakhir2 si bapak, suka meng-hush, hush saya kalau saya udah berisik pas lagi di pijet.

mbak pijet : hush….hush…udah…tahan sakitnya….tahan gelinya….

mbak pijet : hush….hush…gak usah teriak teriak begitu tho…..

si bapak : hush….hush…. kamu mau dipijet gak sih? kalau mau dipijet jangan teriak teriak begitu dong (galak amat sih bapak 😦 . ih….sebel )

makanya dulu saya gak suka dipijet.

tapi sejak dikenalin sama mpok oleh kakak saya, saya suukkaaa banget dipijet.

mpok mijetnya enak. saya jarang merasa kegelian kalo di pijet sama mpok. kalaupun saya berisik karena sakit biasanya mpok cuma bilang : iya…. sakit….sabar ya….istigfar….. (ih….cinta deh sama mpok πŸ™‚ )

jadi sekarang, kalau badan udah agak2 pegel dikit biasanya saya manggil mpok untuk mijit saya. maaf ya mbak2 pijit dan bapak, saya sekarang musuhan sama kalian semua soal perpijetan……

Ada yang suka dipijet juga kah ?