my favorite poems…..

I am not a poem lover actually, but once in a blue moon I found poems that really touchy and meaningful (for me of course 🙂 ), so I kept those kind of poems and sometimes I read them as a reminder when I was down or when my mood was in a roller coaster.

And these are some of my favorite poems 🙂

PLANET EARTH

Growth is painful.

There is both joy and suffering on planet earth because this beautiful world is

a world of duality – a world of opposite.

And this opposite (light and dark; near and far; up and down)

is experienced at every level of life.

There are friends and enemies; falling in love and falling out love;

security and uncertainty; wealth and poverty.

On planet earth, everything has its opposite.

 *Rhonda Byrne*

AROUND THE CORNER

Around the corner I have a friend

In this great city that has no end.

Yet the days go by and weeks rush on,

And before I know it, a year is gone.

And I never see my old friend’s face,

For life is a swift and terrible race.

 

He knows I like him just as well,

As in the days when I rang his bell,

And he rang mine but we were younger then,

And now we are busy tired men.

 

Tired of playing a foolish game,

Tired of trying to make a name.

‘Tomorrow’ I say! ‘I will call on Jim’.

‘Just to show that I’m thinking of him’.

But tomorrow comes and tomorrow goes,

And distance between us grows and grows.

 

Around the corner, yet miles away,

‘Here’s a telegram sir, ‘Jim died today.’

And that’s what we get and deserve in the end.

Around the corner, a vanished friend.

-Patrick Chieng-

RICHARD CORY

Whenever Richard Cory went down town,
We people on the pavement looked at him:
He was a gentleman from sole to crown,
Clean favored, and imperially slim.

And he was always quietly arrayed,
And he was always human when he talked;
But still he fluttered pulses when he said,
‘Good-morning,’ and he glittered when he walked.

And he was rich – yes, richer than a king –
And admirably schooled in every grace:
In fine, we thought that he was everything
To make us wish that we were in his place.

So on we worked, and waited for the light,
And went without the meat, and cursed the bread;
And Richard Cory, one calm summer night,
Went home and put a bullet through his head.

*Edwin Arlington Robinson*

(postingan iseng sabtu sore gerimis 😛 )

Advertisements

hobby baru lody

Seperti yg udah diceritain di postingan yg terakhir,lody itu unik.

nah ini salah satu keunikannya yg aq perhatian seminggu terakhir: dia hobby tidur siang diwastafel ruang tengah 🙂

tadi pas istirahat kantor saya sempet pulang sebentar dan nemu pemandangan ini.lucuk banget 🙂Jpeg

lody, my ‘second child’ :-)

namanya lody. dia kami adopsi waktu berumur kurleb sebulanan deh. pas nyampe dirumah kita dia bawaannya takut2 gitu. setiap ada bunyi sesuatu, kabur sembunyi. setiap ada tamu yang datang kerumah, ngumpet. mungkin takut beneran kali ya, karena masih piyik udah dipisahin dari induknya (dia masih menyusu lo waktu kita ambil. cuma kata pemiliknya gak apa2 diambil walopun dia masih menyusu ke ibunya) jadinya selama minggu2 pertama dia dirumah kami berusaha untuk tidak mengagetkannya dengan tidak bikin bunyi2an yang keras, ato kalo ada tamu datang lodynya dulu yang kita handle, di bawa kekamar, ditenangin dulu.

lody ini kucing ‘indo’ secara ibunya persia murni dan bapaknya kucing lokal. jadinya dia badannya bongsor dan bulunya lebih panjang dan lebat. warnanya belang hitam putih dengan buntut hitam panjang. tadinya waktu kita ambil dari si pemilik, si pemilik ini gak yakin sexnya sikucing apa (karena dia punya puluhan kucing dirumahnya. dari yg ras murni , campuran dan lokal ada semua). jadilah kita namain dia melody secara dia cantik banget. tapi ternyata dia jantan sodara2 dan mau gak mau namanya dirubah menjadi nama kucing jantan juga biar dia gak cemen nantinya. walhasil disingkatlah namanya menjadi lody 🙂

sekarang umurnya udah sekitar 7 bulan. gak terlalu gemuk, penurut dan adorable :-). lody jarang keluar rumah. dipingit ceritanya. soalnya kita udah capek2 mandiin, udah wangi, ntar yang ada dia main guling2an di tanah ato dipasir. yang ada badannya jadi kotor lagi dan gak wangi lagi. gak seru lagi ngedekap dan nyium2nya 🙂 dan kalo dibilangin jangan keluar rumah dia juga nurut. kalopun dibolehin keluar rumah palingan dia mainnya didalem pager aja karena kita sering bilang ke dia: jangan keluar ya lody. diluar banyak motor lewat, nanti lody ketabrak. diluar juga banyak kucing garong, nanti lody dijahatin.jadinya setiap kali dia keluar, dia cuma duduk didepan pager. ngeliatin motor2 yg lewat. gesturenya lucu deh. kepalanya ngikutin motor yg lewat dari kanan, tengah trus kekiri ampe tu motor hilang dari pandangannya. ato kadangan dia mainin daun2 kering yg berjatuhan diteras rumah. sungguh lucuk 🙂

dirumah kita lody adalah ‘the youngest child’. anakku membahasakan dirinya kakak setiap kali main sama lody. secara dia emang udah kebelet pengen punya adek dan belum dapet2 juga ampe sekarang, makanya dia seneeeeeng banget ‘berperan’ sebagai kakak bagi lody.pulang sekolah yg dicari adalah lody. diceritain kegiatannya disekolah hari ini apa aja : tadi kakak mewarnai buah lho lody cantik deh. nanti kakak liatin ya; tadi kakak disekolah sedih deh karena si A gak mau main sama kakak, dst,dst. dulunya sebelum ada lody yg dicari pertama kali sepulang sekolah itu adalah saya dan diceritain segala macam.sekarang tempat saya digantikan oleh lody. perih 😦 (lebayyyy…)

lody ternyata adalah kucing yang unik. dia suka sayur dan buah :-). saya dan suami setiap pagi sarapannya buah dulu, habis itu baru yg agak berat macam oats ato roti. buahnya biasanya ganti2, apel, melon, pepaya, semangka, mangga ato jeruk. nah ternyata lody suka banget ama pepaya. jadi setiap saya ngupas pepaya dia udah duduk manis nungguin, minta dibagi. biasanya dia bisa ngabisin dua potong sedang pepaya lho 🙂 habis itu baru dia makan sarapannya (ikan).tapi kalo saya ngupas buah yang bukan pepaya, dia gak bakal nungguin saya 🙂

lody juga suka sayur wortel dan buncis yang biasanya ada dalam sayur sop atau capcay bikinan saya. dikasih 2-3 potong wortel dan buncis dikunyah aja dengan nikmat sama dia (bener2 menikmati lho dia, ampe matanya merem melek hehehehe….). walopun kata orang kucing jangan dikasih makanan yg kita makan, tapi suka gak tega melihat matanya yg memelas minta bagian setiap kali kita makan pepaya ato sayur sop itu :-).

satu lagi keunikan lody, dia suka ngempengin jari kita. mungkin karena dipisah dari induknya waktu masih sangat muda, jadinya dia masih suka kangen menyusu kali, makanya dia sekarang suka ngempeng. beneran kayak ngempeng lho! kakak saya pertama kali liat kaget. dia takut lody ngegigit jari kita gitu. tapi enggak kok, dia cuma ngisep2 aja sampe dia sendiri tertidur, trus mulutnya lepas sendiri dari jari kita. yang suka dia empengen itu jari2 saya dan anak saya 🙂

satu hal yg agak ‘nyebelin’ tentang lody adalah dia gak bisa ngeliat kita nyapu. iya, nyapu lantai! setiap kali saya mengayunkan sapu menyapu rumah disangkanya lagi main sesuatu kali ya, dia seneng banget tuh. jumpalitan disapu yg saya pegang, bikin sampah2nya betebaran lagi, bikin badan dia jadi kotor lagi.dan dia gak bisa disuruh duduk diam dan brenti ngerecokin saya nyapu. tetep aja ganggu, jumpalitan, gigitin sapu. masalah nyapu rumah urusannya jadi panjang dan lama.akhirnya setiap kali saya mau nyapu dan beberes rumah, lody diumpetin dulu dikamar dijagain sama anak saya. trus lody juga gak bisa liat tissue nganggur,pasti digigit dan dibawa pergi ama dia. trus tissuenya dicabik2 ama giginya dia ampe jadi serpihan2 kecil. habis itu asiklah dia ngejar2 serpihan tissue itu kemana2. sayalah yg repot ngeberesinnya nanti kalo dia udah bosen main ama tissue itu.

eniwei, lody brings happiness to my family. semoga dia sehat terus dan akan selalu ada bersama kami sampai years and years and years to come 🙂

balada pencarian sekolah si kaka’

Ternyata pengalaman teman2 yg ribet nyari sekolah untuk anaknya juga mampir kekehidupan saya.

secara punya anak cuma 1, perempuan lagi, tentunya kami ingin dia mendapatkan pendidikan terbaik. mimpi besar saya untuk si kaka’ (panggilannya dirumah walopun ampe sekarang ade’nya belumnya juga muncul 🙂 ) dia bisa menggenggam dunia ditangan kirinya dan akhirat ditangan kanannya -yg diamini oleh suami- dimana sekolah yg kami inginkan bisa memberikan porsi pendidikan agama yg lebih banyak dibandingkan pendidikan formalnya. maka jatuhlah pilihan pada SDIT atau MI. denger2 ada MI yg bagus didaerah C*****h, yg punya akreditasi A dan diminati banyak ortu dan ada juga SDIT yg bagus di daerah C*****l. maka meluncurlah kami ke C******h untuk browsing disekolah yg pertama ini. ketemu dengan ketua unit penerimaan siswa barunya. ngomong lumayan lama dengan si bapak dan kami cukup puas dengan kurikulum dan program sekolahnya. si bapak menganjurkan untuk membeli formulir indent dulu (kayak mo beli mobil aja ya bo, pake indent indent segala 🙂 ) karena peminatnya banyak kata belio. nanti kalo formulir resmi (dari pendaftaran resmi) udah dapat tinggal bayar sisa kekurangannya dari total harga form kata belio lagi. ya udah kami manut, beli formulir indent.

ternyata emang bener kata si bapak. waktu pendaftaran resmi dibuka, ramenya minta ampun. dalam hati saya mikir : waduh ni sekolah bagus banget brarti yak? banyak bener yg antri pengen masukin anaknya kesini. brarti emang bener omongan diluaran kalo sekolah ini bagus. makin pedelah saya untuk menyekolahkan si kaka’ disini. tapi semakin dalam ‘berhubungan’ dengan sekolah ini semakin saya kuciwa dengan ‘pelayanannya’ :-(. satu persatu mulai keliatan ‘minusnya’ like the following:

1. waktu mo bayar formulir dikasir (pake ngantri lamaaaaaa…….. pisan), saya liatin formulir indent sama formulir resmi dan uang dgn nominal sesudah dipotong formulir indent.terjadilah dialog berikut:

mbak kasir : kok Rp….  …segini ? harusnya Rp …… bu.

saya : iya mbak, tapi saya udah beli formulir indent segini Rp………. jadi bayarnya tinggal segini Rp………, itu ada catatan dari bapak A tentang itu mbak.

mbak kasir : emang ada formulir indent ya? saya gak tahu tuh. ibu tunggu diluar deh nanti saya panggil.

saya ‘diusir’ keluar sementara si mbak kasir melayani customer dibelakang saya. dalam hati ngedumel waktu itu tapi gak dikeluarin secara verbal karena badan ini udah capek letih lesu menunggu antrian panjang tadi. gak lama-sekitar 2 ato 3 menitan- saya dipanggil lagi masuk.

mbak kasir : iya, ibu bayar segini Rp …… (nadanya flat, gak ada friendly2nya, gak minta maafnya pulak!)

saya pun pasang muka kenceng, bayar dan terus pulang.

pelajaran hari ini : a. institusi sebesar itu ternyata koordinasi antar bagiannya dodol. masa kasir gak tau ada formulir indent? emangnya itu keputusan ngeluarin formulir indent tanpa persetujuan yayasan atau illegal yak? makanya bagian keuangan kagak dapat info? b. institusi islam tapi SDMnya kok jutek bin judes begitu ya? gagal paham saya 😦

2. sewaktu ngebalikin formulir langsung dikasih kartu ujian. disitu tertulis ujian saringan masuknya tgl ……, jam 7 pagi udah nyampe disana. brangkatlah kami dari rumah setengah tujuh. nyampe di sana langsung ke meja pendaftaran satu2nya. ditanya nomer berapa saya jawab 146. disuruh tandatangan di nomor 146 ternyata nama yg tertulis disitu bukan nama si kaka’.

saya : mbak ini namanya bukan nama anak saya.

mbaknya: oh ya? coba liat kartu ujiannya bu. oh ibu daftarnya SDIT apa MI?

saya : saya daftar untuk MI mbak.

mbaknya : oh MI di dalam bu, sambil mengarahkan saya kekantor MI dibagian dalam gedung itu. berjalanlah kami kesana dan ternyata oh ternyata, kantornya TERKUNCI!!!! ini apa2an yak? kok saya disuruh registrasi kekantor yg terkunci?

saya balik lagi dong kedepan. para petugas depan lagi asik foto2. saya tungguuu……..in aja. habis itu saya samperin mbak yg tadi.
saya: mbak, ini maksudnya apa ya? saya disuruh kekantor MI padahal ternyata kantor MInya dikunci. MI itu ujiannya sekarang apa kapan ya?
mbaknya : eh…. oh…. sebentar ya bu (dia kedalam menemuin seseorang). trus keluar seorang bapak (bapak 1) menemui saya dan bilang: sepertinya data anak ibu tertukar. ini kartu ujian SDIT bukan MI.
saya : kenapa data anak saya bisa tertukar ya pak ? dan MI itu ujiannya sebenarnya tanggal berapa ?
bapak 1 : oh…. eh….. sebentar ya bu (dia balik lagi kedalam). keluar lagi bapak2 (bapak 2) yg ngomomg ke saya : sebentar ya bu….
saya nungguin ada 1/4 jam dioper2 gitu. si kaka’ udah resah dan  saya suruh duduk nunggu sama suami. trus bapak 2 tadi muncul lagi dengan seorang bapak2 yg lain (bapak 3). kayaknya digeret dari mesjid sodara sodara karena masih sarungan.
bapak 2 : ini ada orang MI bu, ibu ngomong aja langsung sama bapak ini. trus dia ngeloyor kedalam (si bapak no 2).
bapak 3 : ada apa ya bu?
saya : (narik napas dalam2) ini saya ngomong dengan bapak siapa?
bapak 3 : saya pak B.
saya : bapak B sebagai apa di MI?
bapak 3 : saya guru kelas 6 bu
saya: begini ya pak, waktu ngebalikin formulir saya langsung dikasih kartu ujian. tertulis disitu tanggal ……., hari ini. ternyata hari ini yg ujian adalah SDIT bukan MI. katanya data anak saya tertukar. pertanyaan saya, kenapa data anak saya bisa tertukar dan ujian MI itu sebenarnya tanggal berapa?
bapak 3 : eh…. oh….. coba ditanya aja ke kantor MI bu.
saya : (nada geregetan) pak, saya udah kekantor MI dan kantor itu dikunci, gak ada yg bisa ditanyain disitu !
bapak 3 : (melongo kayak orang o**) oh…. coba saya liat dulu kesana.
saya : (dalam hati : terserah ente deh pak!)
agak lama dia balik lagi dan langsung saya samperin.
aq : jadi gimana pak? sebenarnya ujian MI itu tanggal berapa?
bapak 3 : kantornya dikunci bu (itu mah saya udah tahu dari tadi pak…. pak….), ibu balik lagi aja besok pagi untuk dapat berita pastinya.
saya : (langsung spaneng, tapi berusaha marah dengan elegan. marah elegan = muka normal, gak kenceng, suara normal, gak meninggi tapi nadanya datar) gak bisa seperti itu pak! saya udah dioper2 dari tadi tanpa ada yg bisa menjawab pertanyaan saya. saya maunya besok MI yg menelpon saya untuk mengkonfirmasikan MI ujian tanggal berapa dan kenapa data anak saya bisa tertukar. ini nomor ujian dan data anak saya yg katanya tertuker, ini nomer tlp saya tolong bapak catat dan tolong SAYA yg dihubungi besok pagi, bukan SAYA yg menghubungi MI. jelas ya pak?
bapak 3 : oh… iya bu iya.
trus kamipun beranjak pulang. dua hal penting yg saya dapet hari itu: (1) ini institusi gak ada koordinasinya dan saling lepas tangan (SDIT langsung ‘menghilang’ setelah bapak 3 dari MI muncul, karena menurut mereka itu bukan masalah mereka, itu masalah MI). (2) mengucapkan maaf ternyata sulit sekali untuk mereka. sewaktu saya dioper2 sampai 4 orang itu gak satu pun dari mereka minta maaf atas ketidaknyamanan yg terjadi dipihak saya.
lanjut cerita, saya komplenlah ke ketua panitia via tlp, dia orang yg pertama minta maaf dan meminta kami datang esok harinya ke MI untuk mengambil kartu ujian baru, kartu ujian MI.
suami deh yg pergi ngambil kartu itu. dapet kartu ujian tapi gak ditulis ujannya tanggal berapa. saya tanya suami tadi nanya gak ujiannya tanggal berapa? jawabannya ditanya dan kata mereka ujiannya tgl …….. aka seminggu lagi dan para ortu akan di konfirmasi via telpon sebelum tanggal ujian.
oke lah, H-2 kita tungguin itu konfirmasi, gak ada. H-1 saya masih nunggu sampe jam 4 sore itu konfirmasi tetap kagak ada. akhirnya  ditelponlah itu institusi  nanyain ini jadi gak ujian MI besok ? kok saya gak dikonfirmaasi? katanya mau dikonfirmasi sebelum ujian? jawabannya pendek aja: iya bu jadi besok jam 7. titik
entah kenapa saya mulai2 mual dengan institusi ini 😦
di hari H-nya kamipun berangkat pagi2 untuk ujian walaupun emaknya si kaka’ ini mulai gak semangat. jam tujuh nyampe lokasi, urus2 administrasi pendaftaran sebelum ujian. jam 7.30 anak2 masuk kelas untuk ujian. para ortu dikumpulin di aula, disuguhin presentasi tentang MI sambil nunggu giliran diwawancara. wah bagus nih akyu bisa tanya2 nanti kata si emak dalam hati. tapi ternyata oh ternyata….. kita dipanggil wawancara ditengah2 presentasi oleh sang kepsek. selesai wawancara yg gak nyampe 5 menit, presentasi udh selesai. saya tanya ortu2 yg lain: ada sesi tanya jawab gak tadi? gak ada, kita gak ditawarin bertanya kata si para ortu. selama wawancara yg cuma 5 menitan itupun si interviewer cuma nanya: si kaka’ hobinya apa? cita2nya apa? punya teman gak dirumah? punya keluhan penyakit gak? sekolah di institusi ini pilihan yg keberapa? terus belio ngomomg : terimakasih atas wawancaranya bapak ibu, silakan mengisi surat pernyataan ini (pernyataan tentang pembayaran uang sekolah), nanti diserahkan diluar.
emak & suaminya : melongo…..!!
segitu doang? itu namanya wawancara? kok kami gak dikasih kesempatan untuk bertanya2 yak? setau saya dalam wawancara pihak yg diwawancarai juga diberi kesempatan untuk bertanya. ini wawancara model apa ya cuma 1 arah begini?
interviewer : terimakasih atas waktunya bapak dan ibu  (kentara banget ngusirnya). kami yang emang udah gak semangat lalu berlalu keluar.
impression saya : sekolah ini gak suka/gak mau berkomunikasi dengan ortu siswa. arogan. apa jadinya kalau ada terjadi sesuatu dengan si kaka’ disekolah ini, kemana emaknya harus ngomong untuk mencari kejelasan dan  solusinya kalo orang2 disini pada males berkomunikasi kayak gini. kalau menurut saya berkomunikasi dan berbicara adalah dua hal yang berbeda, dan institusi ini maunya cuma bicara doang, gak mau berkomunikasi. mungkiin karena mereka merasa udah punya nama : akreditasi A gitu lho !
pulang ujian itu saya curhat sama my big sister di brisbane. dia cuma ketawa ngakak ngedengerin curhatan saya.
big sister : hellow….. indonesia gitu lho ! jangan heran ! kalau udah punya nama kayak gitu emang biasanya jadi sombong kan?
little sister : tapi saya expectnya lebih sama institusi ini lho big sister, secara ini institusi islam, udah punya nama karena udah puluhan tahun berdiri, udah akreditasi A.
big sister : jangan terbuai dengan itu semua. di indonesia hal2 kayak gitu mah gampang dapetnya. asal punya uang aja. gelar akademis aja bisa dibeli di indonesia kan?
little sister : iya juga sih 😦
big sister : udah…., sekarang coba liat sekolah yg ke dua itu , yg SDIT, siapa tau kamu dapat pengalaman berbeda disana.
to be continued…..