kematian yg indah

saya dapat cerita ini dari ayah.tentang kakek Z. warga sepuh dikampung saya.

saya kenal dengan kakek Z sejak jaman sd dulu dan sejak dulu saya udah memanggilnya uwak (kakek dalam bahasa minang) sampai sekarang.

Uwak tinggal dengan anak perempuannya yg berprofesi sebagai penjual sembako di pasar tradisional kampung saya. sehari hari saat anaknya jualan dipasar uwak hanya dirumah, ngeberesin kebunnya yg sepetak atau baca baca buku agama dan selalu yg gak pernah ketinggalan baca Al Quran setiap sebelum masuk waktu sholat yg lima waktu.

saya mengingat uwak sebagai seorang laki laki tua berwajah teduh, keningnya tidak pernah berkerut dan wajahnya awet tua. iya, dari saya kenal dengan uwak sampai terakhir ketemu dengan beliau, rasanya wajah uwak gak pernah berubah. apa perasaan saya aja kali ya 🙄

saya gak tahu umur uwak berapa, ayahpun gak tahu persisnya berapa. setiap kali ditanya berapa umurnya uwak akan selalu menjawab “ambo lahia wakatu gunuang marapi malatuih (saya lahir waktu gunung merapi meletus)”. ntah tahun kapan itu. tapi menurut ayah kemungkinan uwak berumur 85-87 tahun gitu.

setiap kali saya pulang kampung saya sempatkan ketemu sama uwak dan amazingnya uwak masih ingat saya setelah sekian puluh tahun berlalu. uwak gak pikun, ingatannya masih tajam dan setiap kali diajak ngomongpun nyambung2 aja. kata orang mungkin ini karena uwak rajin ngaji makanya beliau gak pikun. setiap kali ketemu uwak selalu menanyakan kabar saya. terakhir ketemu, sebelum saya balik ke sini setelah 2 tahun di Riau,uwak ngomong gini kesaya “baa kaba S (anak saya), alah baradiaknyo, agiah adiak lah S lai, ibo wak surang2 se inyo ndak bakawan dirumah (gimana kabarnya S, udah punya adek belum, kasih adek dong, kasihan dia sendirian aja dirumah)” saya waktu itu cuma cengengesan aja waktu uwak ngomong kayak gitu 😆 dan bilang : “bukan gak mau ngasih adek uwak, cuma belum dapet2 juga sampe sekarang, belum dikasih rejeki sama Allah”. dan balasan uwak : “saba selah, tuhan tahu a yg paliang rancak untuak umatNYO (sabar aja, tuhan tahu yang terbaik untuk umatNYA)”.

ngomong sama uwak enak karena beliau gak kepo dan tulus. dan uwak dikenal warga kampung saya sebagai orang yang relijius. uwak selalu solat berjamaah di surau (mushola kecil) kecil kampung kami, 5x sehari. dihari hari dan jam jam sholat sepi (lohor dan ashar) kadang kalo gak ada makmum yg lain, uwak akan sholaat berjamaah berdua dengan garin (marbot) surau saja.

sampailah kemudian ayah menceritakan kepada saya kalau uwak udah gak ada dan cerita kepergiannya sangat menyentuh hati saya. uwak meninggal pada saat sedang menjalankan sholat jumat bersama warga kampung yg lain di surau tempat dia biasa sholat berjamaah setiap harinya.

hari itu ayah shaf sholatnya persis dibelakang uwak dan ayah adalah saksi langsung bagaimana uwak meninggal. menurut cerita ayah, disaat bangkit dari rukuk, perlahan lahan uwak duduk dan merebahkan badannya dan ‘pergi’, tanpa menimbulkan kehebohan jamaah dan mengganggu prosesi sholat jumat. jamaah sholat kemudian baru menyadari kalau uwak udah gak ada setelah sholat selesai.

saya sedih dan bahagia sewaktu ayah menceritakan ‘kepergian’ uwak. sedih, karena saya tidak akan berjumpa lagi dengan uwak. bahagia, karena uwak pergi disaat yang sangat indah, saat sedang berkomunikasi dengan sang penciptanya. bagi saya, kematian uwak sangat indah. semoga uwak mendapatkan tempat yang indah disisiNYA dan semoga suatu saat nanti saya bisa ketemu lagi sama uwak, didunia yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s