baper

sejak balik lagi ke sini dari Pekanbaru 2 tahun yang lalu, saya udah kasak kusuk nyari DSA (Dokter Spesialis Anak) untuk S. S lahir disini di tangerang, dan sejak dia lahir sampai kami pindah ke Pekanbaru, saya udah punya DSA yang lumayanlah waktu itu. lumayan dalam artian bisa diajak berkomunikasi dan bisa menampung dan menjawab semua keluhan dan pertanyaan saya sebagai ibu baru kala itu.

nah, sewaktu kami balik lagi kesini dua tahun yang lalu itu, DSA baik ini udah gak praktek lagi di RS tempat saya lahiran S dulu. beliau pindah praktek ke RS lain yang membutuhkan energi dan biaya extra untuk mengunjunginya (sangking jauhnya dari tempat tinggal kami 😥).

jadilah kemudian saya berburu DSA lagi. dan ternyata nyari DSA yg cocok itu kayak nyari jodoh. susah susah gampang 😂.

dari beberapa RS yang saya kunjungi saat S sakit, saya masih belum menemukan DSA yang cocok di hati. rata2 DSA yang saya kunjungi punya jadwal praktek yang ketat dan jumlah pasien yang berjubel  sehingga mereka tidak punya waktu untuk sekedar bercakap2 menenangkan hati seorang ibu khawatir yg anaknya lagi sakit -saya- 😧. it’s just a business 😥.

tapi saya tidak menyerah. saya mengubah strategi. daripada capek mengunjungi RS satu2, saya akhirnya bertanya2, kiri kanan depan belakang untuk mendapatkan rekomendasi DSA yg bagus dan baik. dari sekian banyak info yang saya terima, dapatlah nama dr.B sebagai suara terbanyak yg direkomendasikan sebagai dokter yang baik, bagus dan udah lama prakteknya. ok deh, saya cukup puas dengan semua komen positif tentang beliau.

jadilah waktu S sakit suatu waktu, kami pergi ke RS tempat dr. B ini praktek. saya senang dengan RS ini, deket dari rumah, bersih, suster2nya ramah. sip pokoknya.

tapi apa yg saya dengar dengan apa yang saya lihat tentang dr. B di luar ekspektasi saya. dari awal percakapan dengan beliau saya udah merasa di-judge kalau saya bukanlah seorang ibu yang baik.sampai kemudian ada kalimat beliau : makanya anak itu diurusin yang membuat saya terkesiap. tahu dari mana beliau kalau saya gak ngurusin anak saya? emangnya beliau tinggal di rumah saya dan melihat keseharian saya setiap hari sehingga bisa berkesimpulan begitu? saya memang ibu bekerja tapi saya tidak pernah melepaskan S sepenuhnya kepada pengasuhnya.apakah beliau tahu itu ?

si bapak yang duduk disamping saya, yang melihat ketersinggungan saya dengan perkataan dokter itu buru2 menggenggam tangan saya dipangkuan saya dan mengambil alih pembicaraan.

saya udah mogok bicara. saya keluar ruangan prakteknya dan bersumpah tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki saya disana 😠.

saya berlebihan? entahlah.

akhirnya kami pulang setelah si bapak menyelesaikan semua urusan.

keesokan harinya saya curhat ke temen yang merekomendasikan ni dokter. saya ceritain semuanya. dan responnya ? lu baper aja kali? itu dokter senior lho, cara ngomongnya emang kayak gitu. mungkin maksudnya ngasih nasehat.bla…bla…bla...(membela si dokter).

Doh….kayaknya saya salah tempat curhat.

ngasih nasehat sih ngasih nasehat, tapi jangan dengan nuduh saya gak ngurusin anak saya gitu dong. mentang2 situ dokter senior, saya harus terima aja semua perkataan situ? sori lah yaw. masih ada dokter lain di luar sana yg mungkin belum se-senior situ tapi tidak akan langsung menuduh saya gak ngurusin anak saya 😠 dan saya akan menemukan dokter itu !!

iya, saya lagi baper 😈

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s