Takdir di 25 September malam

Saya sudah mengenalnya  selama hampir 2 tahun. Perempuan yang ramah, baik hati dan di sayang oleh semua murid muridnya. Iya, dia seorang guru. Guru Al quran di sekolah tempat anak saya S, belajar sekarang. S kami pindahkan ke sekolah ini, yang lebih cocok dengan hati nurani kami dan visi misi kami dalam membesarkannya sebagai seorang muslimah sejati pada saat dia naik ke kelas IV. Disaat mendaftarkan S disini, disaat yang sama sekolah ini juga sedang membutuhkan guru bahasa Inggris dan menawari saya untuk mengajar disini. Dan jadilah saya kembali ke basic lagi – teaching.

Disekolah inilah saya pertama kali mengenalnya. Dialah yang pertama kali menyapa saya di hari pertama saya mengajar lagi. Sejak hari itu interaksi kami berlanjut dan semakin dekat apalagi kemudian meja kerja saya pindah ke samping mejanya.

Dia adalah teman terbaik dalam saling memberi nasehat (walaupun dia lebih muda dari saya), teman terbaik berbagi pisang goreng makanan kesukaan kami berdua, teman terbaik dalam hal ledek ledekan dan curhat curhatan.

Dia menjalani hidup dengan lempeng, penuh senyum, walaupun semua orang tahu kepahitan hidup yang dijalaninya. Tidak pernah ada kata2 kata kasar, umpatan ataupun keluhan yang keluar dari mulutnya selama hampir 2 tahun pertemanan kami. Al quran yang diajarkannya setiap hari kepada anak anak, terpatri dengan jelas di dalam keseluruhan dirinya.

She was waiting for her fourth child.  Dan menurutnya, kehamilan yang ke-4 ini adalah kehamilan yang terberat yang dia rasakan.

Saya bersamanya dari awal kehamilannya. Saya melihat perubahannya dari kurus menjadi menggelembung, dari berjalan gagah naik turun tangga lantai 1 dan lantai 2 menjadi terseok seok seiring dengan semakin besarnya kandungannya.

Di minggu minggu terakhir kehamilannya, dia bilang kalau rasanya semakin berat dan perutnya semakin sakit. “sakit banget perut aku yang bagian bawah ini mak“, Itu yang sering diucapkannya ke saya. Tapi walaupun sering merasa kesakitan, setiap kali jam mengajarnya datang, dia akan bangkit dengan semangat dan penuh senyum ke kelasnya.

Di awal bulan September dia sudah memasukan ijin cuti melahirkan ke pihak sekolah dan kita semua mensupport keputusannya karena kami semua kasihan melihat jalannya yang sudah makin terseok seok. Saya memeluknya lama dan mendoakan kelancaran untuk persalinannya nanti di hari terakhir kami bertemu itu. Dan dia membalas pelukan erat saya dengan sama eratnya sambil tersenyum dan berucap “sampai nanti kita ketemu lagi ya mak“.

Selama dia cuti saya rutin bertanya apakah sudah lahiran atau belum dan jawabannya selalu “belum mak, belum ada pembukaan, tapi perutku udah makin sakit ini“. Begitulah selalu awal cetingan kami.

Hari selasa tanggal 24 Sept kami semua mendapat kabar kalau beliau sudah memasuki proses melahirkan, cuma pembukaannya gak naik naik. Hari rabu tanggal 25 sept 2019 siang kami semua dikejutkan dengan berita kalau dia dalam kondisi kritis diruang operasi setelah melahirkan secara caesar.

Disela sela jam istirahat kami berangkat ke rumah sakit untuk menjenguknya. Tapi sayangnya kami tidak diijinkan untuk melihat nya karena kondisinya yang masih kritis. Menunggu dengan gelisah dan tidak putus2nya berdoa di luar ruang operasi, dokter datang mengabari kalau akan diadakan operasi ke dua untuk menutup rahim.

Pemikiran yang ada dikepala kami saat itu, kalau akan dilaksanakan operasi yang ke 2 berarti dia berada dalam kondisi yang stabil untuk menjalani operasi itu. Maka pulanglah kami dengan fikiran yang positif tentang kesembuhannya.

Sesampai dirumah saya tidak sempat membuka wa di grup dan ketinggalan up date tentang dia karena saya disibukan dengan kasus emergency salah satu anabul dirumah (Koko) yang harus segera dilarikan ke dokter karena kondisinya yang kritis. And I lost him in the vet’s office 😦 😦

Jam 7 rabu malam itu saya pulang ke rumah dengan hati hancur, mata bengkak, ingus beleleran dan tangisan yg tak kunjung berhenti karena kematian Koko. Setelah menguburkan Koko malam itu juga, saya sangat kecapekan, lahir dan bathin terkuras, saya tidak berkesempatan membuka grup untuk memantau kondisi ter up date sahabat saya itu.

Kamis subuh setelah selesai sholat malam, baru saya ingat untuk membuka grup, dan banjir berita yang masuk menghancurkan hati saya untuk kedua kalinya 😥 😥 : sang sahabat tercinta telah pergi mendahului saya menuju ke tempat sang penciptanya.

Rasanya seperti mimpi, rasanya baru kemaren kami masih tertawa2 berdua, saling meledek dan berbagi pisang goreng makyus dari kantin sekolah, dan sekarang tiba tiba saya tidak akan pernah lagi melihat dan mendengar suara,  tawa dan senyumnya 😥 😥 Ya allah ya rabb…..berat sekali rasanya menerima kenyataan ini.

Kamis pagi itu saya langsung ke rumahnya dalam perjalanan ke sekolah. Saya ingin bertemu, saya ingin melihat dan saya ingin memeluk dan menciumnya untuk terakhir kali.

Sesampai disana tangis saya pecah untuk kesekian kalinya. Dia terlihat seperti sedang tertidur lelap dengan wajah damai. Saya peluk dan saya cium wajahnya, saya bisikan baginya doa keselamatan di alam sana.

Till we meet again my dearest friend…..please find me in hell when you don’t see me in jannah. i love you so much …… 😥 😥 😥

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 thoughts on “Takdir di 25 September malam

  1. innalillahi wainailahi rojiun. turut sedih dan berduka cita atas kepergian almarhumah. semoga khosnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran 🤲🏻🤲🏻🤲🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s